Para pejantan turun dari ranjangDibilik – bilik bambu jiwa merintih lirih
Dengan derap kaki pasukan berkuda mereka melangkah
Bambu runcing erat tergenggam
Seakan haus akan darah si anjing jalang
Ditemani do’a terisak pilu, menatap kepergian
Sang pejantan menuju medan darah
Tanpa berfikir mereka menapakSatu demi satu pejantan maju
Yang ada hanya rasa cinta pada sang kekasih
Yang harus dibela, dilindungi
Dari kuku – kuku besi si anjing jalang
Menantang simata biru dengan tujuh lubang pelor
Meski tubuh terlumuri tajamnya bau amis
Para pejantan maju dengan kemilau
Menuntut dari gejolak jiwa yang mendendam
